ARTIKELKHAZANAH

Mau Untung Dalam Berdagang, Jujurlah

Oleh: Bangun Lubis

Tidak ada alas an untuk tidak beruntung, kalau cara berdagangnya selalu jujur dan sabar, ikhlas. Pengalaman Rasulullah Shallallahu’alaihi washallam, dalam berdagang sejak dahulu, adalah dengan cara mengutamakan kejujuran. Rasulullah tak pernah mengatakan dagangannya yang paling baik. Tapi selalu dia katakana inilah adanya.

Bila bagus dia katakana beginilah kondisinya, dan bisa dilihat semua bentuk barang dagangannya. Begitu juga harganya, Rasulullah tidak membesar-besarkan keuntungan dari modal yang dibelikannya atas barang dagangan itu.

Beliau adalah seorang peletak dasar peradaban Islam. Di sisi lain Rasulullah juga pedagang yang unggul dan berhasil gemilang. Manajemen bisnis yang dijalankan Rasulullah SAW hingga kini maupun di masa mendatang akan selalu relevan diterapkan dalam bisnis modern.

Rasulullah adalah seorang anak yatim-piatu. Setelah ayahnya yang bernama Abdullah dan ibunya Siti Aminah wafat, Muhammad SAW dirawat kakeknya Abdul Muthalib. Namun sang kakek yang juga wafat, sehingga Ia hidup bersama pamannya  Abu Thalib.

Muhammad SAW yang memiliki kepribadian yang agung membuat pamannya Abu Thalib sangat menyayanginya. Muhammad SAW dijadikan sebagaimana anaknya sendiri.

PAMAN yang menggeluti profesi sebagai seorang pedagang, kemudian mengajari Rasulullah SAW cara-cara berdagang (berbisnis) dan bahkan mengajaknya pergi bersama untuk berdagang meninggalkan negerinya (Makkah) ke negeri Syam (yang kini dikenal sebagai Suriah) pada saat Rasulullah SAW baru berusia 12 tahun. Tidak heran jika beliau telah pandai berdagang sejak berusia belasan tahun tersebut.

Rasulullah SAW dalam berbisnis adalah orang yang sangatjujur. Kejujuran yang telah mendarahdaging dalam dirinya, menjadikan pula setiap perjalanan hidupnya sebagai seorang pedagang besar yang tetap berlaku jujur.

Kejujuran itu telah diakui oleh penduduk Makkah sehingga beliau digelari Al Shiddiq. Selain itu, Muhammad SAW juga dikenal sangat teguh memegang kepercayaan (amanah) dan tidak pernah sekali-kali mengkhianati kepercayaan itu. Tidak heran jika beliau juga mendapat julukan Al Amin (Terpercaya).

 *Dagangan Berkualitas*

Menurut ahli sejarah, telah tercatat Jauh sebelum Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam diangkat menjadi rasul, beliau adalah seorang pengusaha sukses dimasanya. Sejak usia 12 tahun Nabi Muhammad telah diajarkan berdagang oleh pamannya Abu Thalib.

Beranjak dewasa, Rasulullah menunjukkan bakatnya sebagai seorang pengusaha sukses yang jujur, adil serta dapat dipercaya dalam membuat perjanjian bisnis. Modal itu lah yang membuat usahanya terus berkembang, dan menambah pundi-pundi kekayaan beliau.

Bayangkan saja oleh Anda, saat Rasulullah menikah dengan Siti Khadijah, beliau memberikan mas kawin senilai ± Rp. 1.750.000.000 (satu milyar tujuh ratus lima puluh juta rupiah). Dimana saat itu bentuk mas kawinnya berupa 125 ekor unta terbaik. Jika satu ekor unta saja saat ini berkisar Rp. 14.000.000, maka untuk 125 ekor unta silahkan hitung sendiri angkanya.

Lalu bagaimana cara berdagang Nabi Muhammad agar bisa sukses seperti itu? Apa tips, strategi dan prinsip yang diterapkan Rasul? Sehingga Michael H. Hart, penulis buku The 100 Most Influential Man in History, menempatkan beliau diurutan pertama.

Untuk memahami cara Rasulullah berniaga, maka tidak akan lepas dari sifat utama Nabi. Muhammad SAW melakukan lawatan bisnis ke luar negeri sebanyak enam kali, diantaranya ke Syam (Suriah), Bahrain, Yordania dan Yaman. Dalam semua lawatan bisnis, Muhammad selalu mendapatkan kesuksesan besar dan tidak pernah mendapatkan kerugian.

Lima dari semua lawatan bisnis itu dilakukan oleh beliau atas nama seorang wanita pebisnis terkemuka Makkah yang bernama Khadijah binti Khuwailid. Khadijah yang kelak menjadi istri Muhammad SAW, telah lama mendengar reputasi Muhammad sebagai pebisnis ulung yang jujur dan teguh memegang amanah.

Lantaran itulah, Khadijah lalu merekrut Muhammad sebagai manajer bisnisnya. Kurang lebih selama 20 tahun sebelum diangkat menjadi Nabi pada usia 40 tahun, Muhammad mengembangkan bisnis Khadijah sehingga sangat maju pesat. Boleh dikatakan bisnis yang dilakukan Muhammad dan Khadijah (yang menikahinya pada saat beliau berusia 25 tahun) hingga pada saat pengangkatan kenabian Muhammad SAW adalah konglomerat.

Pola manajemen bisnis apa yang dijalankan Muhammad SAW sehingga bisnis junjungan kita itu mendapatkan kesuksesan spektakuler pada zamannya ? Ternyata jauh sebelum para ahli bisnis modern seperti Frederick W. Taylor dan Henry Fayol pada abad ke-19 mengangkat prinsip manajemen sebagai sebuah disiplin ilmu, ternyata Rasulullah SAW telah menerapkan nilai-nilai manajemen modern dalam kehidupan dan praktek bisnis yang mendahului masanya. Rasulullah SAW telah dengan sangat baik mengelola proses, transaksi, dan hubungan bisnis dengan seluruh elemen bisnis serta pihak yang terlihat di dalamnya.

 *Jujur dan Sabar*

Seperti dikatakan oleh Prof. Aflazul Rahman dalam bukunya “Muhammad: A Trader” bahwa Rasulullah SAW adalah pebisnis yang jujur dan adil dalam membuat perjanjian bisnis. Ia tidak pernah membuat para pelanggannya mengeluh. Dia sering menjaga janjinya dan menyerahkan barang-barang yang dipesan dengan tepat waktu. Muhammad SAW pun senantiasa menunjukkan rasa tanggung jawab yang besar dan integritas yang tinggi dalam berbisnis.

Saat berdagang Nabi Muhammad SAW muda dikenal dengan julukan Al Amin (yang terpercaya). Sikap ini tercermin saat dia berhubungan dengan customer maupun pemasoknya.Nabi Muhammad SAW mengambil stok barang dari Khadijah, konglomerat kaya yang akhirnya menjadi istrinya. Dia sangat jujur terhadap Khadijah. Dia pun jujur kepada pelanggan. Saat memasarkan barangnya dia menjelaskan semua keunggulan dan kelemahan barang yang dijualnya. Bagi Rasulullah kejujuran adalah brand-nya.

Dalam melakukan bisnisnya, Muhammad SAW tidak pernah mengambil margin keuntungan sangat tinggi seperti yang biasa dilakukan para pebisnis lainnya pada masanya. Beliau hanya mengambil margin keuntungan secukupnya saja dalam menjual produknya.Ternyata kiat mengambil margin keuntungan yang dilakukan beliau sangat efektif, semua barang yang dijualnya selalu laku dibeli Orang-orang lebih suka membeli barang-barang jualan Muhammad daripada pedagang lain karena bisa mendapatkan harga lebih murah dan berkualitas. Dalam hal ini, beliau melakukan prinsip persaingan sehat dan kompetitif yang mendorong bisnis semakin efisien dan efektif.

Dalam berdagang Rasulullah sangat mencintai customer seperti dia mencintai dirinya sendiri. Itu sebabnya dia melayani pelanggan dengan sepenuh hati. Bahkan, dia tak rela pelanggan tertipu saat membeli. Sikap ini mengingatkan pada hadits yang beliau sampaikan, “Belum beriman seseorang sehingga dia mencintai saudaramu seperti mencintai dirimu sendiri.”

Nabi sejak dulu selalu berusaha memenuhi janji-janjinya. Dalam dunia pemasaran, ini berarti Rasulullah selalu memberikan value produknya seperti yang diiklankan atau dijanjikan. Dan untuk itu butuh upaya yang tidak kecil. Pernah suatu ketika Rasulullah marah saat ada pedagang mengurangi timbangan. Inilah kiat Nabi menjamin customer satisfaction (kepuasan pelanggan).

Nabi pernah marah saat melihat pedagang menyembunyikan jagung basah di sela-sela jagung kering. Hal itu dengan Nabi, saat menjual barang dia selalu menunjukkan bahwa barang ini bagus karena ini, dan barang ini kurang bagus, tapi harganya murah. Pelajaran dari kisah itu adalah bahwa Nabi selalu mengajarkan agar kita memberikan good value untuk barang yang dijual. Sekaligus Rasulullah mengajarkan segmentasi: barang bagus dijual dengan harga bagus dan barang dengan kualitas lebih rendah dijual dengan harga yang lebih rendah.

Boleh dikatakan Rasulullah SAW adalah pelopor bisnis yang berdasarkan prinsip kejujuran, transaksi bisnis yang adil dan sehat. Beliau juga tidak segan mensosialisasikan prinsip-prinsip bisnisnya dalam bentuk edukasi dan pernyataan tegas kepada para pebisnis lainnya. Ketika menjadi kepala negara, Rasulullah SAW mentransformasikan prinsip-prinsip bisnisnya menjadi pokok-pokok hukum.

Berdasarkan hal itu, beliau melakukan penegakan hukum pada para pebisnis yang nakal. Beliau pula yang memperkenalkan asas “Facta Sur Servanda” yang kita kenal sebagai asas utama dalam hukum perdata dan perjanjian. Di tangan para pihaklah terdapat kekuasaan tertinggi untuk melakukan transaksi bisnis yang dibangun atas dasar saling setuju dan perinsip saling suka sama suka.(*)

 

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close