KHAZANAH

Ingin Dakwah Menyentuh Hati, Lemah Lembutlah Dalam Menyampaikan

Oleh: Bangun Lubis

ADA kalanya sebagian orang dalam menasehati anak, istri, adik maupun sahabatnya, bertindak diluar batas keawajaran. Marah-marah dan berkata kasar.

Lebih hebatnya lagi, seorang penyampai ilmu baik itu guru, da’I maupun Ustadz juga sering ada yang begitu. Suara keras dan marah-marah. Apalagi diantara jamaahnya ada yang dikenal nakal, maka, kemarahan pun tidak terelakkan lagi.

Menyangkut kemarahan ini,  Rasulullah Shollollohu’alauihi Wassallam, diminta Allah untuk tidak begitu. Dalam menyampaikan ilmu atau nasehat kepada ummat hendaklah dengan penuh kelemah-lembutan, jangan sampai terkesan memarahi atau marah-marah.

*Prof. DR Yuwono, seorang Ustads dan Dosen Fakultas Kedokteran Unsri*, saat memberikan Kajian di Masjid Al Furqon Ahad 9 April 2017 lalu, mengambil Firman Allah SWT  surat Ali Imran 159 , sebagai dalil dalam masalah ini.

Allah Berfirman’’// Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya..”//

Dalam menyemapikan dakwah ataupun nasehat, menurutnya, hendaklah memiliki etika yang  tulus dan berkualitas . Sejahat apapun orang yang menjadi jamaah, atau keluarga hendaklah berlaku lemah-lembut memberikan nasehat atau pelajaran. Karena sikap kasar dan marah-0marah, akan menjauhkan kita dari jamaah ataupun orang lain yang ingin enimba ilmu.

 

*Kasih Sayang*

Bahkan untuk menasehati Fir’aun sekalipun Nabi Musa diminta Allah untuk tetap mengedepankan kelemah-lembutan. Kita semua ingat cerita Fir’aun dengan Nabi Musa. Siapakah kiranya yang lebih ingkar dan kafir dari seorang Fir’aun.

 

Penguasa zalim, penindas rakyat, bahkan mengaku dirinya Tuhan. Namun, ketika Allah SWT memerintahkan Nabi Musa AS dan Harun untuk  mendakwahinya, kedua Nabi kita itu malah disuruh untuk berlemah-lembut.

Firman Allah SWT’// “Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas. Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah-lembut, mudah-mudahan dia ingat atau  takut.”// (QS Thaha [20]: 43-44).

Begitulah etika berdakwah bagi para dai dan mubaligh. Sejahat dan sejelek bahkan sezalim apa pun orang yang didakwahi, tetaplah mengedepankan unsur kelembutan dan kasih sayang. Jika orang seperti Fir’aun saja, para nabi disuruh untuk berlemah lembut dalam berdakwah, apalagi untuk mendakwahi sesama Muslim kuita ini.

Yuwono mengibaratkan, Ustadz yang arogan dan keras dalam berdakwah sebenarnya malah menjauhkan jamaah dengan gurunya. Objek dakwah yang sebelumnya sudah bersimpati, malah berpaling disebabkan dai yang kasar dalam berdakwah. Inilah yang  disebutkan Alquran, //”Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka akan menjauhkan diri dari sekelilingmu.”// (QS Ali Imran [3]: 159)..”katanya menambahkan.

Ketertarikan para mualaf dengan Islam, biasanya karena terkesan dengan kelembutan, kasih sayang, dan akhlak para dai yang menawan. Rasulullah SAW sendiri adalah orang yang paling menawan akhlaknya. Itulah inti dari ajaran Islam yang tertuang dalam Alquran. Seperti disebutkan hadis, “Akhlak Beliau (Rasulullah SAW) adalah Alquran.” (HR Muslim).

Contohnya saja, ketika menyikapi seorang Arab Badui yang kencing di masjid. Bukankah itu suatu penghinaan terhadap simbol Islam? Bukankah ia telah menodai rumah Allah? Namun Rasulullah SAW sama sekali tak memarahi si Arab Badui. “Biarkanlah dia dan siramlah bekas kencingnya dengan air. Sesungguhnya kalian diutus untuk memberi kemudahan dan tidak diutus untuk memberi kesusahan,” sabda Rasulullah SAW. (HR Bukhari).

Dalam suasana yang penuh ilmu dan seni , berdakwah adalah menampilkan keindahan Islam melalui akhlak yang baik. Mendakwahkan Islam ibarat menghidangkan sebuah makanan. Seberapa pun lezatnya suatu makanan, jika cara menghidangkannya tidak baik maka makanan itu pun enggan dimakan orang.

 

Bayangkan, jika seorang menghidangkan makanan yang lezat, namun ia menjadikan piringnya dari sendal. Kendatipun sendal tersebut baru dibeli dari toko dan belum pernah dipakai, orang tak akan sudi menerimanya. Masalahnya, ada pada cara penyampaian yang tidak baik.

Berbeda halnya dengan suatu makanan yang sederhana, ditata sedemikian baik di piring-piring, kemudian dihidangkan dengan senyuman. Orang akan menyantapnya dengan kebahagiaan. Demikianlah retorika dakwah yang diajarkan Islam seperti tercantum dalam Alquran, //”Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah (lemah lembut) dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (QS An-Nahl [16]: 125).//

Hasan dan Husein, dua cucu Rasulullah SAW ini sangat menawan dalam dakwahnya. Ketika kakak beradik ini mendapati seorang kakek yang salah dalam berwudhu, mereka tak langsung protes. Keduanya sepakat memilih  cara yang lebih lembut untuk mengingatkan sang kakek.

“Wahai kakek, maukah engkau menilai, siapa di antara kami yang wudhunya benar?” tanya Hasan kepada si kakek. Keduanya pun berwudhu dan salah satunya memperagakan cara berwudhu yang salah. Mereka meminta si kakek menjadi juri bagi mereka. Lantas, apa jawaban si kakek?

“Terima kasih telah memberi tahu saya cara berwudhu yang benar. Dan alangkah bagusnya cara kalian menasihatiku,” ujar si kakek. Jika kedua bocah yang masih belum baligh ini saja bisa mempraktikkan cara berdakwah yang baik, tentu para mubaligh yang telah menempuh pendidikan tinggi pasti bisa lebih baik lagi. Dakwah ala Hasan dan Husein tidak menggurui, tidak kasar, dan penuh dengan kelembutan. (*)

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close