ARTIKELKHAZANAH

Berbuat Baik Tanpa Menghitung Untung

 BERBUAT BARIK – Orang perlu mengetahui apakah sesungguhnya “kebaikan” itu. Setiap kita memiliki pendapat masing-masing tentang kebaikan; ada yang menyatakan bahwa yang disebut kebaikan adalah bersikap menyenangkan, memberikan uang kepada orang miskin, bersikap sabar terhadap ber­bagai bentuk perlakuan, itulah yang sering kali disebut “kebaikan” oleh masyarakat. Namun, Allah memberitahukan kita di dalam al-Qur’an tentang hakikat “kebaikan”:

 Oleh:Bangun Lubis

MALAM itu saya berbincang dengan seorang sahabat melalui media sosial. Pernyataan yang saya kirim kepadanya adalah;” Jangan khawatir dengan perbuatan baik, InsyaAllah ada ganjaran baiknya.”  Itu bener, katanya sembari berkata lagi, “Tak perlu orang berbuat baik, yang penting dirimu selalu berbuat baik kepada orang lain, Allah akan membalasnya.”

Bahkan beberapa ayat Al Quran  pun menyebutkan untuk berbuat baik bagi orang lain tanpa harus menghitung-hitung balasan kebaikan dari orang lain tersebut.

Orang perlu mengetahui apakah sesungguhnya “kebaikan” itu. Setiap kita memiliki pendapat masing-masing tentang kebaikan; ada yang menyatakan bahwa yang disebut kebaikan adalah bersikap menyenangkan, memberikan uang kepada orang miskin, bersikap sabar terhadap ber­bagai bentuk perlakuan, itulah yang sering kali disebut “kebaikan” oleh masyarakat. Namun, Allah memberitahukan kita di dalam al-Qur’an tentang hakikat “kebaikan”:

Allah berfirman,“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebaikan, akan tetapi sesungguhnya kebaikan ialah ber­iman kepada Allah, hari Kiamat, malaikat-malaikat, Kitab-kitab, nabi-nabi, dan mem­berikan harta yang dicintainya kepa­da ke­rabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir, dan orang-orang yang meminta-minta; dan memerdekakan hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati jan­jinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan, dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (Q.s. al-Baqarah: 177).

Ayat di atas, menyebut kebaikan yang sesungguhnya adalah bertakwa kepada Allah, menyibukkan diri mengingat hari perhitungan, menggunakan hati nurani, dan selalu sibuk melakukan amalan yang mendatangkan ridha Allah. Utusan Allah, Nabi Muhammad saw., juga memerintahkan agar orang-orang beriman bertakwa kepada Allah dan berbuat kebaikan:

“Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada. Bersegeralah berbuat kebaik­an setelah berbuat dosa agar dosa itu menjadi bersih, dan selalu berlemah lembut dalam bergaul dengan manusia.” 1(At Tirmidzi Birr 55:1988)

“Katakanlah: ‘Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Tuhan­mu.’ Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabar yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (Q.s. az-Zumar: 10).

Allah telah menyatakan dalam al-Qur’an bahwa Dia mencintai orang-orang yang selalu berbuat kebaikan karena keimanan mereka, dan orang-orang yang takut dan cinta kepada Allah, selanjutnya Dia menyatakan akan mem­­beri pahala kepada mereka dengan ke­baik­an:

“Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (Q.s. Ali ‘Imran: 148).

“Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh yang baik. Dan sesung­guh­nya kampung akhirat itu lebih baik, dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertakwa.” (Q.s. an-Nahl: 30).

Ini merupakan kabar baik yang diberitakan dalam al-Qur’an kepada orang-orang yang berbuat kebaikan, yang mengorbankan diri, dan yang berusaha untuk memperoleh keri­dha­an Allah.

Allah memberikan kepada orang-orang ini berita gembira tentang kehidupan yang baik, di dunia ini dan di akhirat kelak, dan Allah akan menambahkan karunia-Nya, baik yang berupa kebendaan maupun keruhanian. Nabi Sulaiman yang diberi seluruh kerajaan, yang tidak pernah diberikan kepada siapa pun, dan Nabi Yusuf yang diberi wewenang atas selu­ruh harta benda Mesir, adalah contoh-contoh yang diceritakan dalam al-Qur’an. Allah memberitahukan kita tentang nikmat yang Dia berikan kepada Nabi Muhammad saw. dalam ayat, Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia membe­rikan kecukupan.”(Q.s. adh-Dhuha: 8).

Perlu kita ketahui bahwa kehidupan yang indah dan baik tidak saja diberikan kepada orang-orang beriman dari generasi terdahulu. Allah menjanjikan bahwa dalam setiap kurun, Dia akan memberikan kehidupan yang baik kepada hamba-hamba-Nya yang beriman:

“Barangsiapa mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik, dan sesungguh­nya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerja­kan.” (Q.s. an-Nahl: 97).

Orang-orang yang beriman tidak pernah mengejar dunia, yakni mereka tidak tamak ter­hadap harta dunia, kedudukan, atau keku­asaan. Sebagaimana yang dinyatakan Allah dalam sebuah ayat, mereka telah menjual diri dan harta mereka untuk memperoleh surga. Jual beli dan perdagangan tidak melalaikan mereka dari mengingat Allah, mendirikan sha­lat, dan berjuang untuk agama.

Di sam­ping itu, mereka tetap sabar dan taat sekalipun mereka diuji dengan kelaparan atau kehilang­an harta, dan mereka tidak pernah mengeluh. Orang-orang yang berhijrah pada zaman Nabi merupakan sebuah contoh. Mereka berhijrah ke kota lain dengan meninggalkan rumah, pe­kerjaan, perdagangan, harta, dan kebun mere­ka, dan di sana mereka puas dengan yang sedi­kit mereka miliki.

Sebagai balasannya, mereka hanya mengharapkan keridhaan Allah. Kerelaan mereka dan keikhlasan mere­ka dalam mengingat akhirat menyebab­kan mereka memperoleh rahmat dari Allah berupa kehidupan yang baik. Kekayaan yang diberi­kan Allah kepada mereka tidak menyebabkan mereka mencintai dunia, sebaliknya mereka bersyukur kepada Allah dan mengingat-Nya. Allah menjanjikan kehidupan yang baik di dunia ini kepada setiap orang yang beriman dan berakhlak mulia.

Lalu ayat Al Quran yang menyuruh berbuat baik juga begitu banyaknya, menandakan bahwa perbuatan baik dengan segala cara begitu mulia disisi Allah. “…..janganlah engkau melupakan bagian-mu di-dunia, dan berbuat baik-lah sebagaimana Allah berbuatbaik kepada-mu.” (Al Qashash , 28 : 77) . “… karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. “ ( Al Baqarah, 2: 195 ) ,  “ Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.“ ( Ali Imraan (3): 147-148 ).  “   Inilah ayat– ayat kitab yang penuh hikmah ( Al Qur’an) sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang – orang yang berbuat kebaikan, ( yaitu ) orang – orang yang mendirikan shalat , dan menunaikan zakat serta yakin akan akhirat. Mereka itu atas petunjuk Tuhan-nya dan mereka itu orang – orang yang beruntung.”(Lukman,  31 : 2 – 5 ).

“Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil , berbuat kebajikan, memberi  ( pertolongan) kepada kerabat  dan melarang berbuat yang keji, mungkar dan Dia Allah, mengajari kamu agar kamu mendapat petunjuk.” ( AnNahl , 16 : 90 ). “ JikaKamu berbuat kebaikan ( berarti ) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri , dan jika kamu berbuat kejahatan , maka  (akibatnya ) bagi diri-mu sendiri.”(  Al Israa’, 17 : 7 & 13 ).

Karenanya, tak perlulah ingat-ingat bahwa orang lain akan berbuat baik kepadamu. Itu tak nyata adanya. Berbuat baik sajalah kepada orang lain. Karena kasih sayang Allah SWT itu sejalan dengan kebaikan kita kepada orang lain.”Berbuat baiklah, tanpa harus mengharapkan imbalan kebaikan dari orang lain. Cukup Allah saja yang membalasnya. Balasan Allah seluas bumi dan langit.(*)

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close