ARTIKEL

Membendung Amarah, Menghindari Dosa

 Oleh: H. Bangun Lubis

Pernah kita melihat seorang petennis membuang raketnya bahkan merusak dengan cara menghempaskannya ke lapangan saat berlaga dengan lawannya. Ditonton oleh banyak orang di stadium itu, bahkan disiarkan oleh televisi ke seluruh dunia. Begitulah seseorang melapiaskan rasa amarahnya ketika telah membuncah.

Bahkan seorang teman, pernah mengatakan bahwa handphone seharga 15 juta hancur  dihempaskan si empunya, karena kesal yang tidak diketahui soalnya. Seseorang marah, mukanya merah dan badannya gemetar, sembari meninju dinding dan menghancurkan barang yang ada disekitarnya.  Pemandangan itu sering kita lihat. Bahkan kadang bisa terjadi pada diri sendiri.

Marah memang  begitu membahayakan. Lalu  tidak semua orang bisa menahan amarahnya, karena bisa jadi syetan telah ikut melibatkan diri pada diri, sehingga pengendalian diri makin sulit. Pertahanan emosional jebol, ibarat tanggul yang dihempas oleh air bah.

Lebih parah lagi, jangankan barang yang hancur, atau harga diri jadi ‘’hilang’’ gara-gara amarah yang tak terkendali, amarah juga bias membuat keributan dalam rumah tangga. Mengeluarkan kata-kata tak sedap, dan malah beujung peceraian pun. Ikatan yang mesra menjadi retak, antara ibu dan anak, suami dan istri hancur karena amarah. Apalagi sudah dibungkus syetan.

Kalo bisa tanahlah amarah. Jangan biarkan dia menjadi bola liar yang bisa menggelinding dan menghempas ke sana-kemari, hingga menerobos hati menjadi gusar.  Rasulullah sangat menganjurkan agar kita jangan sampai memiliki amarah yang membuncah. Karena syetanlah yang akan berdennag ketika akibatnya tak dapat dihindari.

Seorang sahabat malah pernah bertanya kepada Rasulullah SAW. “Sahabat Pria itu menghadap dan bertanya kepada Rasulullah Saw, “Wahai Nabi, berilah hamba nasehat” Nabi berkata, “Janganlah suka marah” Pria itu mengulang beberapa kali dan Nabi menjawab; “Jangan suka marah” (HR Bukhari)

Meskipun pria itu beberapa kali bertanya kepada Nabi, namun jawaban Nabi tetap : “Jangan suka marah”. Mengapa Nabi Muhammad Saw menekankan kalimat berulang kali kepada pria tersebut ‘Jangan suka marah’? Nasehat itu bukannya kamu jangan mencuri, jangan berbohong, jangan membenci, jangan pula memukul, namun Belaiu menasehati jangan suka marah.Pastilah kemaraham itu sangat buruk bagi para pengikut Beliau, sehingga kalimat itu diulangi beberapa kali. MasyaAllah

Marah adalah gejolak yang timbulkan oleh setan dan mengakibatkan berbagai bencana dan malapetaka yang tak seorangpun mengetahuinya melainkan Allah Swt.

 Dalam sebuah buku, Al Ghozali rahimahullah berkata saat menjelaskan tentang sebab-sebab marah. Diantara timbulnya marah adalah: bercanda berkelebihan, main-main, mengejek, mengolok-olok, berbantah-bantahan, saling bermusuhan, berkhianat, mengejar kelebihan harta duniawi dan pangkat, dan sebab yang paling banyak menimbulkan kemarahan adalah pengelabuan orang yang bodoh dengan menyebut kemarahan itu sebagai keberanian, kejantanan, harga diri dan semangat yang tinggi.

Salah satu kerikil tajam penghalang manusia untuk dicintai Allah menuju Surga Ilahi adalah kemarahan. Apa yang harus kita kerjakan? Terapi pengobatan kemarahan kita secara Islami perlu kita ikuti demi keselamatan dunia akhirat.

Ustadz Lutfi Izuddin ketika bincangi mengatakan, ada terapi untuk mengobati marah: pertama,  Berlindung kepada Allah Swt dari godaan syaitan yang terlaknat Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Sulaiman bin Shord, beliau berkata: Aku duduk bersama Nabi Saw dan di hadapannya ada dua orang yang saling mencela, salah satu dari kedua orang tersebut telah memerah wajahnya dan urat lehernya tegang, maka Rasulullah Saw bersabda: “Aku mengetahui satu kalimat seandainya dia ucapkan niscaya akan hilanglah gejolak yang ada pada dirinya, seandainya ia membaca:  

Kedua,     “Aku berlindung pada Allah dari godaan syaitan yang terkutuk” niscaya hilanglah amarahnya)”. [HR.Bukhari – Muslim]. Ketiga,  Diam tidak berbicara. Salah seorang diantara kalian marah maka hendaklah dia diam”. [HR. Imam Ahmad]3.  Apabila mampu meninggalkan tempat itu maka berdirilah lalu pergi.

Keempat, bersikap tenang, yaitu duduk apabila sedang berdiri, atau tidur terlentang bilamana sedang duduk. Rasulullah Saw bersabda: “Apabila salah seorang diantara kalian marah sedangkan dia berdiri maka hendaklah dia duduk, agar kemarahannya hilang, apabila masih belum mereda maka hendaklah dia berbaring” [HR. Abu Daud]

Berwudlu, Sebagaimana sabda Nabi Saw: “Marah itu adalah bara api maka padamkanlah dia dengan berwudlu”.[HR.Al Baihaqi].     Berzikir kepada Allah. Dengan memohon kepada-Nya untuk mamapu memadamkan amarah. Ketahuilah bahwa hanya dengan mengingat Allah maka hati tentram”. [QS.Ar Ra’ad:28].

Selanjutnya, laksanakanlah sholat. Sebagaimana diketahui bahwa penghapus kemarahan ataupun perselisihan adalah melaksanakan sholat 2 raka’at dan mohon ampun akan kekhilafannya. Astaqfirullah.

Apabila engkau mengingat apa-apa yang dijanjikan oleh Allah bagi orang-orang yang bertaqwa, yaitu orang-orang yang menjauhi sebab-sebab munculnya amarah baik bagaimana menahan amarah dan menolaknya, maka hal ini sebagai tindakan yang paling besar yang membantu dalam memadamkan api kemarahan, juga mendapat pahala yang besar, sebagaimana dalam sabda Rasulullah Saw:

Surgalah bagi mereka yang dapat menahan amarahnya. Anugerah derajat yang tinggi dan kedudukan istimewa yang akan diberikan kepada orang yang bisa menahan dirinya dari api kemarahan.  Ketahuilah menahan amarah adalah ciri orang yang bertaqwa.

Hal itu sebagaimana firman Allah: “Yaitu orang-orang yang menafkahkan hartanya secara sembunyi dan terang-terangan dan orang yang menahan kemarahan serta memaafkan manusia, sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik”.[QS.Ali Imran:2:134]. Ketahuilah bahwa hanya dengan mengingat Allah maka hati tentram”. [QS.Ar Ra’ad:28]

Begitulah Islam menyajikan berbagai dalil dan usah-usaha yang bias dilakukan sebagaimana dianjurkan oleh Rasulullah dan diperintahkan oleh Allah SWT.(*)

 

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close