ARTIKELPENDIDIKAN

Menelisik Tingkat Keimanan Sesuai Al-Qur’an

KONSEP Asasi  Iman Menurut Al-Qur’an, bersumber pada Al Quranulkarim.  Diantara karakteristik asasi Iman yang disebutkan dalam ayat-ayat Al-Qur’an diantaranya , . keyakinan yang teguh dan kuat tanpa keraguan yang disertai dengan komitmen yang menyeluruh (comprehensive commitment).

Sesungguhnya orang-orang mu’min itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.     ( Al-Hujurat : 15 ).

Dalam Kajian yang bertemakan “Makna Iman “ disajikan  Ustads H Arfan M Alwy, pada Kajian Ahad, 10-5-2015 di Mesjid Al Furqon Perguruan Islam Yayasan Dakwah dan Pendidikan (YDP) Al Furqon, R Soekamto dikemukakan bahwa ,  Surat Al-Baqarah [2:285], Allah tiada membedakan makhluk satu dengan yang lainnya dalam soal Iman. Dan Iman mereka sangat komitmen dan menyeluruh.

“Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya”, dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan kami taat”. (Mereka berdoa): “Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaula h tempat kembali”.(QS. Al Baqarah : 285).

Surah Al-Baqarah dimulai dengan menerangkan bahwa Alquran tidak ada keraguan padanya dan juga menerangkan sikap manusia terhadapnya, yaitu ada yang beriman, ada yang kafir dan ada yang munafik. Selanjutnya disebutkan hukum-hukum salat, zakat, puasa, haji, pernikahan, jihad, riba, hukum perjanjian dan sebagainya.

Ayat – ayat itu, ujar Ustads Arfan,  adalah sebagai ayat penutup surah Al-Baqarah yang menegaskan sifat Nabi Muhammad saw. dan para pengikutnya terhadap Alquran. Mereka mempercayainya, menjadikannya sebagai pegangan hidup untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat. Dan ayat ini juga menegaskan akan kebesaran dan kebenaran Nabi Muhammad saw. dan orang-orang yang beriman, dan menegaskan bahwa hukum-hukum yang tersebut itu adalah hukum-hukum yang benar.

Dengan ayat ini Allah swt. menyatakan dan menetapkan bahwa Rasulullah saw. dan orang-orang yang beriman, benar-benar telah mempercayai Alquran, mereka tidak ragu sedikit pun dan mereka meyakini benar Alquran. Pernyataan Allah swt. ini terlihat pada diri Rasulullah saw. dan pribadi-pribadi orang mukmin, terlihat pada kesucian dan kebersihan hati mereka, ketinggian cita-cita mereka, ketahanan dan ketabahan hati mereka menerima cobaan-cobaan dalam menyampaikan agama Allah, sikap mereka di waktu mencapai kemenangan dan menghadapi kekalahan, sikap mereka terhadap musuh-musuh yang telah dikuasai, sikap mereka di waktu ditawan dan sikap mereka di waktu memasuki daerah-daerah luar Jazirah Arab.

Sikap dan watak yang demikian adalah sikap dan watak yang ditimbulkan oleh ajaran-ajaran Alquran dan ketaatan melaksanakan hukum Allah swt. Inilah yang dimaksud dengan jawaban Aisyah r.a. ketika ditanya tentang akhlak Nabi Muhammad saw. beliau menjawab:

 “ Bukankah engkau selalu membaca Alquran?” Jawabnya: “Ya.” Aisyah berkata: “Maka sesungguhnya akhlak Nabi itu sesuai dengan Alquran.” (HR Muslim).

Seandainya Nabi Muhammad saw. tidak meyakini benar ajaran-ajaran yang dibawanya dan tidak berpegang kepada kebenaran dalam melaksanakan tugas-tugasnya, tentulah ia dan pengikutnya tidak akan berwatak demikian. Bisa jadi Rasulullah akan ragu. Tapi ternyata tidak, karena keyakinan

Dalam pada itu orang-orang yang hidup di zaman Nabi, baik pengikut beliau maupun orang-orang yang mengingkari, semuanya mengatakan bahwa Muhammad adalah seorang kepercayaan, bukan seorang pendusta.

Tiap-tiap orang yang beriman itu yakin akan adanya Allah Yang Maha Esa, hanya Dia sendirilah yang menciptakan makhluk, tidak berserikat dengan sesuatu pun. Mereka percaya kepada kitab-kitab Allah yang telah diturunkan-Nya kepada para Nabi-Nya, percaya kepada malaikat-malaikat Allah, dan malaikat yang menjadi penghubung antara Allah swt. dengan rasul-rasul-Nya, pembawa wahyu Allah. Mengenai keadaan zat, sifat-sifat dan pekerjaan-pekerjaan malaikat itu termasuk ilmu Allah, hanya Allah swt. yang Maha Tahu. Percaya kepada malaikat merupakan pernyataan percaya kepada Allah swt.

Dinyatakan pula pendirian kaum muslimin terhadap para rasul, yaitu mereka tidak membeda-bedakan antara rasul-rasul Allah; mereka berkeyakinan bahwa semua rasul itu sama, baik pengikutnya sedikit maupun banyak, baik hukum-hukum yang dibawanya ringan atau berat, banyak atau sedikit, semuanya adalah sama, perbedaan itu disesuaikan dengan keadaan, kesanggupan dan kemaslahatan umat-umat mereka.

Firman Allah swt.:

قُولُوا آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا وَمَا أُنْزِلَ إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالْأَسْبَاطِ وَمَا أُوتِيَ مُوسَى وَعِيسَى وَمَا أُوتِيَ النَّبِيُّونَ مِنْ رَبِّهِمْ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ (136)

Artinya:
Katakanlah (hai orang-orang mukmin), “Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kamu dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub dan anak cucunya dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan Kami hanya tunduk patuh kepada-Nya. (Q.S Al Baqarah: 136).

Az-Zamakhsyari dalam al-Kasysyaf menegaskan bahwa makna dari ayat ;  “Sesungguhnya orang-orang mu’min itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.     ( Al-Hujurat : 15 ).

Menujukkan karakteristik utama keimanan yang benar, yakni mereka (al-Mukminun) itu beriman dan tidak ada keraguan sedikitpun dalam diri mereka akan apa yan mereka yakini. Mereka tidak bimbang sedikitpun kepada sesuatu yang mereka imani. Mereka mengakui bahwa kebenaran bersumber dari sesuatu itu.[1]

Secara konklusif, sebagimana kajian Ustadz Arfan menunjukkan bahwa, ayat di atas menegaskan kepada kita tentang kriteria orang yang beriman (al-Mu’minun). Keimanan yang hakiki ialah iman kepada Allah tanpa dicampuri sedikitpun keraguan. Ini merupakan aspek i’tikad atau keyakinan.

Lebih dari itu, seseorang bisa disebut mukmin dalam arti sebenarnya (al-mu’min al-shadiq) jika ia juga mengaktualisasikan keimanannya itu dengan disusul dengan follow up-nya, yang dalam ayat di atas dicontohkan dengan berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah SWT. Maka tidak benar jika iman itu hanya sebatas keyakinan belaka, namun ia merupakan keyakinan yang teguh dan kokoh tanpa ada keraguan sedikitpun. Lebih dari itu, sebagai tindak lanjut dari keyakinan yang dianutnya, seorang mukmin sejati akan benar-benar mengaktualisasikan keimanannya.(*)

Penulis: Bangun Lubis

 

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close