ARTIKELOASE

Janji Allah Itu Sebuah Ketetapan yang Pasti

Oleh: Bangun Lubis

KALAU seorang ayah berjanji kepada anaknya, misalnya bila nilai anak bagus maka orangtua akan mengajak berwisata ke tempat pemondokan orang-orang yang menuntut ilmu agama seperti ke Bandung, atau melihat masjid yang bagus di  luar kota dalam Provinsi Sumatera Selatan ini.

Janji ayah itu tentu sangat menyenangkan anak. Hatinya berbinar-binar dan bahkan anak pun makin giat belajar atas janji ayahnya tersebut. Walaupun, setelah tiba waktunya, ternyata karena ada persoalan keuangan maka janji itu urung ditepati.

Bisa jadi anak-anak kecewa, tetapi kemudian mereka bisa jadi menangis dan perasaan ngambek. Walaupun dengan penuh kasih sayang sang ayah kemudian meredakan hati anaknya agar tenang dan janji lagi untuk selanjutnya pada musim liburan mendatang.

Begitulah janji manusia kendati kepada permata hati sekalipun. Janji seperti itu juga terjadi sebaliknya. Ada anak yang berjanji kepada orantuanya, namun dalam kenyataannya selalu ada penghalang sehingga janji tersebut tidak ditepati. Namun janji ada kalanya juga dapat ditepati. Lalu ada rasa senang dan rasa gembira yang sangat terasa dalam

Begitu keadaan manusia membuat janji tak semua dapat ditepati, dan ada kalangan dapat ditepat. Ada ketidakpastian tentunya dalam kondisi ini. Keterbatasan manusia menjadi sebab terhalangnya janji ataupun dapat ditepatinya janji.

Namun tidak demikian dengan janji Allah SWT.  Janji Allah SWT pasti ditepati tanpa ada yang bisa menghalanginya. Berbeda dengan janji manusia yang kadang tertunda atau bahkan batal karena memang manusia tak sepenuhnya mampu menguasai keadaan dan kehidupannya.

Memang, sebagian janji Allah SWT ada yang ‘kelihatannya’ tertunda atau tak terwujud, namun itupun adalah karena kita melihatnya dari sudut pandang perkara dunia, padahal janji Allah SWT itu justru lebih menekankan tentang perkara yang lebih kekal, sehingga ketika seseorang mempercayai janji-Nya namun di dunia ini dia tampak hidup sengsara, maka bukan berarti Allah SWT tidak memenuhi janji-Nya.

“Janji Allah SWT pasti ditepati, tanpa ada yang bis, menghalanginya.”

 Bila ada janji Allah yang hingga akhir hayat belum terpenuhi tentu bukan karena Allah tidak menepati janji itu, melainkan begitulah cara Allah SWT mengabulkan doa-doa mereka , yaitu dengan menempatkan mereka dalam posisi kesalehan. Sehingga, ketika janji Allah SWT tampak terwujud di dunia, maka itu adalah merupakan anugerah, dan ketika janji itu tampak tidak terwujud di dunia, maka itu pun juga merupakan anugerah, karena Allah SWT pasti akan menggantikannya dengan kebaikan yang lebih kekal di akhirat kelak.

Di dalam al-Qur’an disebutkan kisah Musa yang dihanyutkan oleh ibunya – sebagiman sebuah kisah yang utarakan oleh Ustads Arfan M Alwi, pada pengajian Ahad awal Januari 2015 di masjid Al Furqon. Firman Allah,  “Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa; “Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul.” (Al-Qashash: 7)“Maka dipungutlah ia oleh keluarga Fir’aun untuk (akhirnya) menjadi musuh dan kesedihan bagi mereka (sendiri). Sesungguhnya Fir’aun dan Haman beserta tentaranya adalah orang-orang yang bersalah.” (Al-Qashash: 8)“Dan berkatalah istri Fir’aun: “(Ia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya, mudah-mudahan ia bermanfaat bagi kita atau kita ambil ia menjadi anak”, sedang mereka tiada menyadari.” (Al-Qashash: 9)

“Dan menjadi kosonglah hati ibu Musa. Sesungguhnya hampir saja ia menyatakan rahasia tentang Musa, seandainya tidak Kami teguhkan hatinya, supaya ia termasuk orang-orang yang beriman.” (Al-Qashash: 10). “Dan berkatalah ibu Musa kepada saudara Musa yang perempuan: “Ikutilah dia” Maka kelihatanlah olehnya Musa dari jauh, sedangkan mereka tidak mengetahuinya.” (Al-Qashash: 11). “Dan Kami cegah Musa dari menyusu kepada perempuan-perempuan yang mau menyusui (nya) sebelum itu; maka berkatalah saudara Musa: “Maukah kalian aku tunjukkan sebuah keluarga yang akan dapat memeliharanya untuk kalian dan mereka dapat berlaku baik kepadanya?” (Al-Qashash: 12)

“Maka Kami kembalikan Musa kepada ibunya, supaya senang hatinya dan tidak berduka cita dan supaya ia mengetahui bahwa janji Allah itu adalah benar, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.” (Al-Qashash: 13)

Dan dari kisah ibunda Nabi Musa AS tersebut, kita mendapati betapa indahnya cara Allah SWT menepati janji-Nya. Kita mendapati bagaimana Dia mengatur agar Nabi Musa AS selamat dari pembunuhan yang dilakukan oleh Fir’aun terhadap anak-anak kecil yang laki-laki, yaitu dengan mengilhami ibunya untuk menghanyutkannya ke dalam aliran sungai Nil, yang kemudian justru dipungut oleh istri Fir’aun sendiri untuk dianggap sebagai anak.

Dan kemudian kita juga bisa melihat bagaimana Allah SWT mengembalikan Nabi Musa AS kepada ibunya setelah Dia menyelamatkannya dari pembunuhan, yaitu dengan cara mencegahnya dari segenap air susu para ibu yang menyusui kala itu, kecuali ibu beliau sendiri.

Betapa indahnya rencana Allah SWT. Memang ibu Nabi Musa AS sendiri sempat merasakan kehampaan dalam hatinya, dan itu sangatlah manusiawi, karena memang justru itulah dampak dari rasa kasih sayang terhadap anaknya. Namun kemudian Allah SWT meneguhkan hatinya sehingga iapun termasuk hamba-hamba beriman yang meyakini kebenaran janji-Allah.

Dari kisahitu kata Arfan M Alwy, kita bisa memperoleh pelajaran penyemangat dalam meyakini janji-janji Allah SWT. Memang kita bukanlah ibunda Nabi Musa AS yang telah nyata kebenaran imannya karena memang telah disebutkan di dalam al-Qur’an, namun setidaknya kita bisa berusaha meneladani keimanannya tersebut, di mana dia mampu bertahan memegang janji Allah SWT.“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (Al-Baqarah: 186)

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya.” (Qaaf: 16)

“Dan Dia bersama kalian di mana saja kalian berada.Dan Allah Maha Melihat apa yang kalian kerjakan.” (Al-Hadiid: 4)

“Karena itu, ingatlah kalian kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepada kalian, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kalian mengingkari (nikmat)-Ku.” (Al-Baqarah: 152)

Dan demikianlah janji Allah SWT, yang mana tak akan pernah mengecewakan siapapun yang memegangnya erat-erat. Kita tentu telah mengetahui begitu banyak janji-janji Allah SWT yang telah disampaikan-Nya kepada kita. Dan di antara janji-janji Allah SWT tersebut adalah janji tentang kedekatan dan kebersamaan-Nya dengan kita, bahwa Allah SWT tidak akan pernah meninggalkan atau menjauh dari kita selama kita sendiri tidak meninggalkan dan menjauh dari-Nya, dan bahwa kita tak memerlukan perantara apapun dan siapapun untuk dapat mengadu dan meminta sesuatu dari-Nya, karena sesungguhnya Allah SWT lebih dekat dengan kita dari siapapun.

Kebersamaan dengan Allah SWT akan dapat mencegah kita dari gerakan-gerakan negatif, baik yang di dalam batin maupun yang terlihat kasat mata. Dia akan dapat menuntun kita untuk mendekati perkara-perkara yang diridhai-Nya, serta menjauhi perkara-perkara yang dibenci-Nya. Semoga Allah SWT senantiasa menganugerahi kita ingatan akan kedekatan dan kebersamaan-Nya dengan kita. Dan semoga Dia mengampuni kita atas segala kesalahan yang tidak kita sadari dan tidak kita maksudkan. Aamiin. Hanya dari dan milik Allah SWT sajalah segala kebenaran, hidayah dan taufiq.(*)

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close